Latest Entries »

Pelangi Sunyi

Akalku dirampas sunyi, dan, dalam lamun kubersyukur:

Aku merdeka.

Tidak lagi memegang satu antara dua uang.

Hingga akalku dirampas sepi, tentang galau sejuta janji.

Berburulah hati dalam setiap makna-makna. Ke selat-selat berombak datar, ke muara-muara tanpa sayap, pasrah di belantara duka.

_____________Kutemukan sunyi,

_____________telah dirampas akalku.

Tambang Keju

#3#

Maka, berkumpullah tikus-tikus albino

Berbungkus overall lusuh tak peduli

Dan baju monyet badut karnaval

Memasang muka putih tak berdosa

Maka, beramai-ramailah tikus-tikus

Ke lubang untuk berpesta View full article »

Empat Permata (3)

(…)

Sambil memasang pakaian, ia melongok satu-satunya jam dinding yang masih hidup di rumah, adalah jam yang berada di kamarnya. Tujuh lewat lima menit. Segera ia teringat tampang Bu Arin dan sebuah kemoceng bertangkai rotan di tangan kiri. Pantatnya sudah sering kena sasaran keganasan kemoceng kesayangan Bu Arin itu. Seketika ia punya ide untuk menyembunyikan benda angker itu atau sekalian saja ia bakar.

Ditepuk-tepuknya kemeja berwarna biru dengan bermotif putih tipis vertikal dan melingkar seperti serat kayu. Debu tipis berterbangan.

Tidak lupa sebuah topi pet hitam berlambang dua sayap terkembang dijahit dengan warna biru terang. Topi itu ia sarung di kepala. View full article »

Empat Permata (2)

saphir

(…)

iChan yakin, Yanti tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Di rumah saja jarang sekali. Kecuali kalau dipaksa ayah. Jika Ayah sering pulang sekali tiga hari—kadang sekali seminggu bahkan pernah satu kali dalam sebulan hanya mau mengantar uang jajan—ke rumah, tentu Yanti lebih jarang pulang daripada itu. Tidak, dia tidak boleh disebut ibu. Lebih baik guru-guru perempuan di sekolah daripada dia.

Namun mengapa dia masih ingin ke sekolah? itu adalah pertanyaan besar yang belum ia temukan jawabannya. Sesampai di sekolah, nanti dia tidaklah belajar seratus persen. Sepuluh persen dia gunakan untuk mendengar celotehan guru. Sepuluh persen lagi di kantin. Dan persenan lainnya diisi dengan menjadi trouble maker di setiap tempat yang dilewatinya.

Ia merasa bahwa dirinya sangatlah kreatif. Sebab, dalam satu kali jalan saja dia bisa menghasilkan puluhan ide-ide usil yang sangat briliant. Bayangkan, betapa menyenangkannya bisa menggergaji kaki kursi guru, kemudian meletakkan kayu potongannya di tempat semula. View full article »

Empat Permata (1)

iChan berusaha menarik kedua kelopak matanya ke atas. Tapi tetap saja, dia gagal setiap kali mencoba. Usaha untuk membuka mata kembali sia-sia. Dia merasa pinggiran matanya seperti dilumuri getah. Seberapa kerasnya dia mencoba menarik kelopak mata ke atas, sekuat itu juga kelopak matanya membalik arah ke bawah, menutup. Kalau dibiarkan, kegagalan itu akan terus berlanjut sampai berkali-kali. Seringkali dia bangun saat matahari sudah di puncak dunia. Pernah juga dia bangkit dari kasurnya saat matahari telah kembali ke peraduan.

Pagi ini, IChan kembali dilanda kemalasan total. Dia malas bangun, malas mandi, malas gosok gigi, terutama malas ke sekolah. Minggu kemarin, dia baru selesai mengikuti ujian semester di sekolah. Namun walaupun begitu, sekolah masih mewajibkan siswanya datang untuk mengadakan acara tradisi setiap tahun menjelang kenaikan kelas: class meeting. Dalam class meeting, OSIS—IChan menyebutnya sebagai singkatan dari ‘Orang-orang Stres Idiot dan Sinting’—menyusun sebuah rangkaian acara yang kata mereka adalah hiburan pelepas stres setelah ujian.

Tak tanggung-tanggung, acara ini dibuat besar-besaran dan semeriah mungkin. Orang-orang yang dengan bangga digelarinya ‘sinting’ itu memajang spanduk di gerbang, di depan kantor guru, hingga ke setiap sudut sekolah. Hampir semuanya berisi tulisan rangkaian acara lomba antar kelas. View full article »

Perempuan Jelangkung

Apakah sudah menjadi kebiasaannya, datang tiba-tiba seperti itu, kemudian pergi lagi secara tiba-tiba? Seperti hantu jelangkung: datang tak diundang, pergi tak diantar. Semaunya sendiri.

Biasanya, tidak akan ada yang berani mengganggu tidurku. Bahkan orang tuaku. Namun, setelah dia datang, dia sering sekali mengusik tidurku. Ketika separo pikiranku telah berpetualang di dunia mimpi, tiba-tiba dia menarikku kembali ke kenyataan.

Bayangkan! Dia membangunkanku hanya sekedar untuk bertanya, “Kak, pemilik kos ini suaminya yang mana sih?” (ehm, sudah selesai membayangkan?) View full article »

Dari kiri: teman saya, Dela, Nenek Onang, beserta cucu dan anak-anaknya.

Tiap sore, teras rumah Onang (biasa dipanggil Nenek) pasti ramai oleh ibu-ibu dan anak kecil. Setelah ashar, anak-anak perempuan, menantu perempuan, cucu dan cicitnya datang ke rumah Onang. Sambil duduk-duduk melepas lelah, mereka bercerita tentang apapun, sambil sesekali tertawa. Namun tak jarang mereka bercakap-cakap pelan dengan ekspresi serius.

“Kami keluarga sengsara,” gurau Onang suatu hari di bulan Maret 2010. Saat itu ia duduk bersandar ke dinding rumahnya.

“Maklum, ini tradisi di gubuk derita,” timpal Iti, anak sulung Nenek sambil menyuapkan nasi ke mulut salah seorang cucunya. Mereka tertawa lebar hingga ‘ngakak’. View full article »

Surat ‘Tuk Maya

Hari ini, Mei mencintai Maya. Tak jemu memandang wajah putihnya yang bercahaya, namun datar dan kaku.

Sering-seringlah memandangku, ambillah aku, debarkan jantungmu di dalam semestaku. Kemarin kau telah lihat juraian hujan. Kau membencinya. Sebenarnya dalam setengah bimbang, apakah hujan yang kau benci atau tuts A?

Ah, Maya, jangan kau kotakkan aku di dalam kardus untuk melindungiku dari hujan. View full article »

Los Angeles, (ANTARA/Reuters) – Film
fiksi-ilmiah spektakular “Avatar” telah melampaui “Titanic” untuk
menjadi film terlaris sepanjang masa, menurut distributor film 20th
Century Fox, Selasa.

Pendapatan total dari seluruh negara untuk film karya James Cameron itu
mencapai 1,859 miliar dollar AS pada penjualan Senin, mengalahkan
pendapatan total “Titanic” senilai 1,843 miliar dollar AS pada periode
1997-1998, kata Greg Brilliant, juru bicara bagi studio News Corp.

Data itu tidak disesuaikan dengan inflasi yang terjadi.

“Avatar” memecahkan rekor “Titanic”, yang tampaknya bagai tidak
terpecahkan dalam enam pekan lebih sedikit, dan menobatkan Cameron
sebagai sutradara luar biasa karena menyutradarai dua buah film terbesar
sepanjang jaman. View full article »

Foto by: DHONI SETIAWAN - Ratusan pengunjung mengatre di depan stand Nexian saat Festival Komputer Indonesia 2009 di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (11/6/2009). Mereka rela berdesakkan demi mendapatkan sebuah ponsel terbaru dengan harga murah.

KOMPAS.com Senin, 18 Januari 2010 | 15:58 WIB- Penjualan ponsel asal China yang membanjiri pasar Tanah Air meledak tak terbendung. Tak hanya distributor yang menangguk untung, penjual ritel yang ada di berbagai pusat penjualan ponsel turut memanen laba. Dalam sebulan terakhir, penjualan ponsel China melonjak sebesar 100 persen. Inilah gambaran mutakhir dampak pemberlakuan China-ASEAN Free Trade Area (ACFTA) di Indonesia. Pengenaan bea masuk hingga 0 persen untuk telepon genggam, yang tergolong produk elektronik, langsung terasa.

Angka penjualan ponsel dari salah satu distributor ponsel China, PT Setia Utama Telesindo, lebih fantastis. Presiden Direktur PT Telesindo Hengky Setiawan mengatakan, penjualan ponsel dari perusahaannya sepanjang 2010 ini naik 300 persen. Pada Desember 2009, Telesindo hanya menual sekitar 30.000 unit. Nah, hingga Jumat (15/1/2010), penjualan Telesindo mencapai 100.000 unit. “Kami perkirakan hingga akhir bulan ini mencapai 200.000 unit,” kata Hengky.

Angka penjualan ini hanya berasal dari satu tipe handphone, P-Phone. Dua minggu lagi, Telesindo akan mendatangkan lima tipe ponsel baru. Hengky yakin, penjualan pada triwulan pertama 2010 bisa menembus 500.000 unit. View full article »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.