Malam Kembar

Menit ini, sebuah hati riang dan bahagia. Baru menyapa langit yang menabur sinar-sinar perak, menghasilkan bintik-bintik berkilauan di ruang lapang hitam dia angkasa.
“Langit malam ini indah,” Gumam Anggi, senyum menatap langit.
“Hm, barusan Mita mau bilang itu. Bintang-bintangnya, cantik,” Mita mengangkat tangan ke langit. Menyentuh cahaya bintang-gemintang itu lewat imajinasi.
“Benarkah kamu mengantuk, Anggi?” Mita menatap gadis semampai, beriringan jalan, berdua.
“Sudah dua malam aku tidak tidur. Mengerjakan proposal untuk skripsi,” mata bening Anggi menyapu kilauan di langit. Membiarkan semua menjadi diam.
Membiarkan lampu jalan mengolesi tiap bagian tubuh yang melewati.
“Sepertinya ada perbaikan gedung,” Suara Anggi, lemah. Tanpa perantara udara, getaran suara itu tidak akan mampu menggoyang gendang telinga Mita.
a
“Gedung itu, ah, mengapa harus diperbaiki? Gedung tua yang tak diakui. Tak ada pemilik sahnya. Gedung terkutuk, kau tahu? Siang hari mereka mengurung anak-anak di dalamnya. Malam hari, mereka meninggalkannya, dengan sumber cahaya yang sangat terang. Katanya, di langit-langit gedung itu berpilin besi-besi, berputar tak henti. Siang dan malam.”
“Semoga, gedung itu menjadi lebih perkasa setelah direnovasi,” ujar Anggi, lesu.
“Mengapa kau begitu lesu, Anggi?”
“Aku mengantuk,”
Tak ada lagi hati bahagia. Bintang-bintang telah menarik saraf-saraf otakku, membuat simpul-simpulnya menegang. Tak mampu menerima sensor apapun selain kelelahan.
“Aku ingin menjadi gedung tua itu,” Anggi menghentikan langkah dengan tiba-tiba. Matanya menatap gedung itu, diam, mematung. “Sekarang aku adalah gedung itu,” ujarnya lagi.
“Sudahlah, ayo kita pulang. Aku tak bisa terus-terusan diteropong oleh sorot lampu jalan ini. Tubuhku sangat berharga, karena aku adalah kuda troya,” Mita menarik lembut lengan Anggi. Lengan itu kaku, dingin.
“Mengapa kau mau jadi kuda troya? Kuda troya lambang hipokritas,” nanar Anggi menatap Mita.
“Bukan hipokritas, Anggi. Namun, peradaban, pertahanan, strategi, harga diri,”
“Gedung itu lebih mulia dari troya,”
“Anggi, Keledai lebih menyukai sampah daripada emas! Tak ku sangka, kau adalah keledai itu!”
Atap seng gedung tua yang mulai lepas itu, berkeriut-keriut. Terangkat oleh angin datang, lalu terhempas ketika tak ada lagi hembusan angin. Anggi menarik lengannya dari cekalan Mita.
“Aku menyesal menjadi manusia. Setiap malam bebintang menangkupi kepalaku. Setiap malam aku ingin menjadi seperti mereka. Namun, aku hanyalah troya. Pembunuh bersarang di lambungku. Kotor. Sampah.” Anggi memegang perutnya.
“Bukan pembunuh, Anggi. Mereka adalah prajurit sejati yang memanggul misi mulia. Mereka bukan sampah. Mereka pahlawan!”
“Pahlawan? Gedung itu lebih pahlawan. Lebih prajurit. Gedung itu rapuh. Namun, perutnya menyimpan bebintang. Siang hari, bebintang itu menyerap sinar-sinar perak dan emas. Di malam hari, lihatlah, mereka bertaburan layaknya mutiara,”
“Apapun katamu, aku tetap menjadi troya,” Sergah Mita. Anggi membanjiri tatapannya dengan ketidakmengertian.
“Dahulu, prajurit-prajurit itu adalah bintang untuk rakyatnya. Sekarang, adakah semua bebintang yang berjejalan di gedung ini siang hari, akan bercahaya di malam hari?”
“Akhir-akhir ini, langit di atasku selalu mendung.” Langit berbintik sinar keperakan itu hanya mampu bertahan dalam ruang detik. Di luar itu, hanya gelap.
Menit itu, semua muram. Mencari bintang, jauh ke atas. Mereka, tidak sadar telah mencuri semua cahaya bintang untuk disimpan di dalam rongga kepala. Gedung tua di seberang memandang mereka,
“Bintang malam ini, begitu indah,” ujar suara tuanya lewat bunyi keriut di atap.

Gabungan Disain dengan Perpustakaan

Selama kuliah, saya melewati dua aktivitas yang cukup berbeda.

Pertama, program studi saya adalah Ilmu Informasi, Perpustakaan dan Kearsipan. Artinya, kami akan dibekali tiga bagian ilmu: Ilmu informasi, ilmuperpustakaan, dan ilmu kearsipan. Ketika masuk ke ruangan kuliah, bergelut dengan teori-teori tentang perpustakaan dan arsip. Proses apa saja yang ada dalam kegiatan perpustakaan, seperti pengadaan bahan pustaka, layanan (sirkulasi, referensi, dll), dan banyak lagi teori-teori tentang perpustakaan. Selain itu, mendalami tentang daur hidup arsip, preservasi dan konservasi, penataan arsip, di samping mempelajari tentang dunia informasi (sepertinya, “Informasi” memang menjadi kurikulum sampingan karena sangat sedikit mata kuliah di prodi saya yang membahas tentang ilmu informasi).

Kedua, kehidupan sebagai redaksi di SKK Ganto. Untuk mengenal SKK Ganto, silahkan klik di sini, atau klik ini. Di Ganto, saya mulai mengenal dan bertindak layaknya jurnalis. Bidang awal yang saya dalami adalah bidang ‘layouting’,atau tata letak, atau perwajahan. Bahasa kerennya, disain.

Karena itulah, suatu ketika, saya ingin mengambil benang merah antara subjek mata kuliah dengan disain. Apakah ada hubungannya antara perpustakaan dan disain? Hmm… Tentu saja ada.

Lalu saya surfing internet. Mencari objek yang tepat untuk menjadi benang merah tersebut. Akhirnya, hehe, ketemu!

Inilah dia benang merah itu:
Disain cool dari Kansas City Library. Konon, untuk memilih buku-buku yang bakal menjadi ikon gedung ini, penduduk lokal diminta untuk menominasi buku yang paling mempengaruhi kota Kansas, sejumlah buku yang menjadi pemenang inilah dibuat menjadi eksterior parker perpustakaan.

kansas
kansas21

Hwah…. hwahhh… Gimana cara masuk ke dalam ya??

And, ada satu perpustakaan dengan desain hampir sama dengan Kansas City Library, yaitu,Cardiff Public Library. Katanya, ini hanya desain sementara hingga perpustakaan Cardiff yang asli jadi. Lho, kok??

243751546ec32bf7918ni4
4440034405625ea5e6agx8

Menurut rencana, Cardiff Library akan dibangun dengan desain comfortable. Pencahayaan yang cukup, bisa juga disebut dengan terbukanya ruang cahaya, menggunakan warna-warna cerah, dan kaca yang diperleber hingga bisa menawarkan pemandangan di seluruh kota Cardiff, United Kingdom.

Ingin rasanya mengunjungi seluruh perpustakaan di seluruh dunia, mempelajari sistem yang digunakan, dan tentu saja, menikmati disainnya…^_^

CERPEN

BEREBUT MALAM

Insomnia. Ah, mungkin aku terkena penyakit itu. Kata orang, ciri-ciri orang yang terkena insomnia adalah tidak bisa memejamkan matanya barang sepicing pun. Persis sama dengan yang kualami malam ini. Ketika kupaksakan menutup mata, di sana memang kelam. Tapi tanpa sepengetahuanku, mata ini kembali membuka. Uh, kadang ini membuatku sebal.

Aku bangkit dari tempat tidur. Aku harus mencari cara agar mengantuk. Aha.. baca buku! Ya, membaca buku merupakan rutinitas yang mudah membuat mata mengantuk. Setidaknya begitulah menurutku. Di mana bukuku. Oh, tidak… aku sudah membakar seluruh buku. Seluruh benda bernama buku di rumah ini telah kuhanguskan. Sudah seperempat abad lewat dari milenium ketiga. Teknologi baru timbul seperti jamur berkembang biak di musim hujan, aku jarang baca buku. Karena sudah ada buku digital. Tinggal pencet ini dan itu, aku sudah bisa membaca buku.

Kadang aku menggunakan internet untuk mencari bahan kuliah yang kuinginkan. Di sana semuanya lengkap. Ya, zaman sekarang mana ada orang yang mau repot. Membolak-balik buku adalah kegiatan yang melelahkan dan memusingkan. Mungkin karena itulah para ilmuan berlomba-lomba menciptakan teknologi. Toh, teknologi memang untuk membantu dan memudahkan segala urusan manusia, bukan?

Buat apa ada buku cetak? Karena dengan chip, ribuan eksemplar buku dapat dikonsumsi siapa saja. Jadi bukan salahku membakar semua buku-buku asli. Toh isinya sudah kusalin ke dalam buku digital.Tidak ada yang boleh memarahiku.

Oke, sekarang tidak ada lagi buku yang harus kubaca. Dan segera kurampas buku digital dari kantungnya. Aku mulai membaca. Oh, layar buku digital malah membuat mata perih. Hilanglah sudah semangatku untuk mengantuk. Walaupun mataku perih, lalu kukatup erat, tetap saja ia menolak untuk tidur. Apa yang salah denganku?

“Shit!!” Aku teriak. Baru kusadari. Aku benar-benar tidak bisa tidur. Ruang kamar yang remang tetap tidak membantu. Aku bangkit ke meja belajar. Di sana ada notebook kesayanganku. Ukurannya sangat tipis. Satu koma sembilan sentimeter. Walaupun ini model lama di masaku, tapi ini kubeli dengan keringat sendiri. Setelah satu bulan bekerja sebagai desainer web.

Segera aku menyibukkan diri dengan browsing internet. Menyapa teman-teman mayaku yang banyak jumlahnya. Walau sekadar menyampaikan pesan, ‘Hi, how are you? when we will chat again?’
Lalu aku membuka situs education. Pasti di sana ada info tentang teknologi terbaru yang mungkin nanti akan kubeli. Tentunya dengan keringatku. Kan malu, bila masih harus menadah sama orang tua. Setelah sepuluh menit mengarungi situs ini, aku merasa bosan. Aku ingin tidur. Aku sangat lelah.

Aha…dengan sigap kukunjungi situs healthy life. Konon, katanya di sana adalah perkumpulan dokter spesialis yang mau menerima keluhan setiap pengunjung situs. Setelah memilih dokter yang tepat, langsung saja kuketikkan masalah. Penyakit insomnia yang sangat mengganggu. Si dokter langsung menyuruhku mengaktifkan webcam.

“Ok Dokter, can you see me now?” tanyaku. Saat ini bahasa Inggris sangat populer. Kadang-kadang bila ada teman maya yang mengajakku menggunakan bahasa Indonesia, aku keteteran. Kalau bahasa daerah? Kalau ada yang mengajakku berbicara bahasa daerah, aku mengaku kalah dan mengibarkan bendera putih. Tepat di wajahnya.

“Baiklah. Saya dokter Indonesia. Kebetulan saya anggota Perkumpulan Pelestari Bahasa Indonesia. Jadi, bisakah kita berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar?”

“Ouch!!” teriakku. Dan bisa kulihat mata si dokter melotot. Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam. Kenapa aku bisa konsultasi dengan dokter yang jago berbahasa Indonesia. “Ba.. baiklah,” jawabku akhirnya.
“Kamu mengaku insomnia? Ya, saya bisa melihat ada bulatan hitam di sekitar matamu. Sudah berapa hari matamu tidak mau tidur?” Tanya sang dokter.

“Sudah… emm.. about… eh, sekitar a week. Oh, maksudnya sekitar satu minggu,” gagap, lidahku gagap berbahasa Indonesia.
“Ehm, apa saudara memiliki masalah pribadi akhir-akhir ini. Maksud saya, apakah Anda banyak pikiran akhir-akhir ini?” Tanya si dokter berhati-hati. “Maaf, saya bukan bermaksud mencampuri urusan pribadi Anda. Tapi dari banyak kasus, urusan pribadi yang terlalu menumpuk di pikiran akan mengganggu Anda untuk isirahat dengan tenang.”

“No.. eh, tidak. Saya tidak punya pribadi masalah, ahm, masalah pribadi,” bantahku.

“Atau Anda sedang merindukan sesuatu,” tanya si dokter lagi. Aku terdiam. Dan menggeleng. Si dokter agaknya mengamati setiap gerakku. Sepertinya dia ragu dengan gelenganku. Uh, biarlah.

Klik…

Listrik padam. Kupukulkan tanganku ke meja. Marah.
“Shit!!” teriakku.

Semodern-modernnya zaman, tetap saja mati lampu. Memuakkan. Apakah negara kita ini tidak malu dengan negara lainnya yang akan berpikir seribu kali untuk mematikan listrik? Apa mereka tidak tahu, mati listrik beberapa detik akan mengganggu perekonomian negara. Berapa rupiah yang hilang ketika industri-industri besar berhenti beroperasi, walaupun listrik mati hanya satu detik.

Gelap, semuanya gelap. Aku beranjak perlahan, meraba-raba, ke kasur.

Tiba-tiba kata-kata sang dokter yang belum sempat kutahu namanya itu terngiang di telinga. Apakah benar, aku merindukan sesuatu? Ya, aku rindu sesuatu. Aku rindu tidur.

Dasar dokter bodoh. Tentu saja seorang insomnia rindu untuk tidur. Rindu bermimpi. Oh Tuhan, datangkanlah sesuatu yang bisa membuatku tertidur. Aku tidak akan marah bila kau beri aku mimpi buruk. Yang penting aku bisa tidur!!

Tidak, tidak mungkin aku hanya diam. Aku harus berusaha. Buku asli, aku harus mencari buku Indonesia asli. Hanya itu yang bisa membuatku tertidur, mungkin.

Kamar tiba-tiba terang.

Listrik telah hidup. Jam dindingku –yang lagi-lagi digital– menunjukkan angka 02:06 am. Mataku masih menganga nyalang.

Ting… Tong…

Notebook ku berbunyi riang. Ternyata belum ku off kan. Dan sebuah pesan datang. Dari si dokter ternyata. Dia mengatakan, sebaiknya aku mengkonsumsi obat tidur. Ya, aku mengerti Dok.

Ternyata ada pesan tambahan di bawahnya.

Untuk mempermudah pelafalan bahasa Indonesia, saudara harus sering-sering membaca buku asli. Jangan buku digital. Karena buku digital disajikan dalam bahasa Inggris. Hidup Bahasa Indonesia!!
Buku asli? Aku bertanya-tanya. Ya, mungkin aku harus menemukan buku asli. Selain untuk membuatku mengantuk, buku asli juga bisa membuat bahasa Indonesiaku kembali lancar.

Setelah kupikir-pikir, aku kasihan dengan orang-orang Perkumpulan Pelestari Bahasa Indonesia. Di internet diberitakan, jumlah mereka hanya sekitar 100 orang. Menyebar di seluruh bagian Indonesia. Mereka aktif mengadakan seminar-seminar bahasa Indonesia. Tapi, sangat jarang orang yang mau mengikutinya kecuali untuk mendapatkan sertifikat. Sedangkan untuk pendanaan, mereka patungan.

Pasti menyenangkan. Bisa kubayangkan, ketika aku berkumpul dengan mereka, mereka menyambutku dengan kata “selamat datang saudaraku..”

Inikah yang ku rindukan selama ini? Benarkah aku rindu untuk kembali ke bahasaku? Ke asalku. Duniaku. Menjamah kembali warisan nenek moyangku? Tapi orang yang berbahasa nenek moyang sering dianggap tidak maju. Dikucilkan karena tidak bisa bergaul dengan orang asing dari negara maju.

“Ya, mereka di tertawakan. Diejek dan dihina. Dianggap manusia pedalaman yang tidak akan bisa mengoperasikan notebook, buku digital, dan banyak lagi. Karena untuk mengoperasikannya harus mahir bahasa inggris,” cerita satu sisi hatiku.

“Tapi bukan berarti harus melupakan bahasa nenek moyang kan? Bukankah menguasai bahasa Inggris hanya sebagai sarana untuk memajukan tanah nenek moyang ini? Dengan menyuplai ilmu dari asing, kita majukan negeri kita. Bukankah seharusnya begitu?” tambah sisi hatiku yang lain.

Yap, aku menemukannya. Yang membuat hatiku selama ini gelisah. Bahasa moyangku. Aku harus kembali menguasainya. Aku ingin berkumpul dengan saudaraku. Ya, saudaraku yang menghargai moyangku. Persetan dengan teknologi yang membunuh bahasaku. Segera kuhubungi sang dokter.

Tapi aku ragu. Mampukah aku bertahan di antara cemoohan orang dan teman-temanku begitu mereka tahu aku anggota Perkumpulan Pelestari Bahasa Indonesia?

Baiklah, untuk langkah awal, aku harus mencari buku asli berbahasa Indonesia, malam ini! Tapi…
“Di mana?”
“Pasti ada..”
“Iya, di mana?”

Untuk menghentikan pertengkaran hati dan pikiranku, segera kucari lewat internet, lokasi perpustakaan yang menyediakan buku asli. Di daerahku.

“Ada!”

Buka 24 jam! Perpustakaan ini milik pribadi, dan ia bersedia membuka kesempatan bagi setiap orang untuk mengunjunginya 24 jam. Demi melestarikan bahasa katanya. Dan ternyata, jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemenku.

Pukul 02:57 am, aku melangkah ringan di terangnya jalan. Jalanan masih ramai. Seperti bukan malam hari. Kurelakan berjalan cukup jauh. Aku sudah bosan dengan kendaran modern yang hanya akan membuat kakiku lemah.

Dua belas menit kemudian, aku sampai di tempat yang dituju. Sebuah rumah kecil dengan pintu dari kayu rapuh. Pintunya pun tidak memiliki gagang.

Tok..tok..

Krieeeeet……..

Baru saja ia mengetuk pintu, pintu itu langsung terbuka. Ternyata tidak dikunci.

Dan aku terpesona. Deretan rak kayu menyambutku. Ada tiga rak kayu menempel di dinding sebalah kiri, kanan, dan belakang. Dua lagi berjejer rapi di tengah ruangan.

Sepasang orang tua tergopoh-gopoh menyambutku. Kulit mereka keriput, yang pria malah sudah bongkok. Mereka tersenyum padaku. Dan kulihat cahaya menerangi ruangan hatiku saat melihatnya.
Inilah masa depanku. Bukan. Tepatnya, masa depan negeriku. Bukan hanya untuk insomniaku.

*laptop/ komputer jinjing

02 Maret 2008
Untuk Bahasa Negeriku…
Meiriza Paramita

Lupa

forget

Manusia itu lemah, hingga dia di beri gelar dhaif. Manusia itu adalah ‘Lupa’, sehingga disebut dengan insan. Ya, kata insan sendiri memiliki hubungan dengan kata ‘Nasiy’ (Lupa). Memang hal ini sudah menjadi pengetahuan umum bagi kita.

Kesibukan kadang memiliki andil penting dalam membuat manusia ‘lupa’. Karena ada banyak cabang di dalam fikiran yang meminta untuk di aktualisasikan dan tak ada yang ingin termarginalkan. Apalagi jika ia telah berperang dengan waktu, alias deadline. Semua serba lupa. Mulai dari yang besar sampai yang kecil.

Untuk contoh yang parah, tentu seseorang bisa saja melupakan ikat rambut yang dia pasang di lengannya sendiri. Dan dia sibuk mencari-cari di saku celana, baju, atau malah mencari-carinya ke calam tas.

Itulah lupa. Sering sekali menggerogoti fikiran orang-orang yang “stress dan banyak pikiran”.

Hmmm. penyebabnya apa ya? Saya juga tidak tahu. Saya hanya bisa menganalogikan, jika dalam suatu gudang ditumpuk benda-benda dalam jumlah banyak, dalam waktu yang singkat, dengan jenis yang amat beragam, ukuran yangt berbeda-beda pula, tentu akan susah untuk mencari benda-benda yang kita butuhkan pada saat terdesak pula.

Walaupun otak kita berkapasitas jutaan gigabyte, tetap saja, jika ia ditumpuk tanpa mempedulikan kesan “tertata rapi”, tetap saja, ambuiradul. Malahan lebih susah mencari satu dokumen pada tempat yang luas kan? Dengan kata lain, akses akan terganggu sehingga timbullah ‘Lupa’ itu.

Di sisi lain, ketika seseorang sedang terfokus dengan sati kegiatan dan ingatan, kadang ingatan-ingatan penting juga akan tertumpuk jauh ke dalam memori ingatan (otak). Nah,, gak mungkin kan, memory tersebut mencak-mencak tanpa sebab biar ia tampil ke depan dan bisa diakses?

Ah, semoga mengerti dengan apa yang saya katakan. Intinya, cuma satu. Tidak ada salahnya bagi kita untuk saling mengingatkan. Tapi, gunakan cara yang baik. Karena sebagus2 makanan yang dihidangkan tapid engan wajah cemberut, tetap saja, orang-orang gak bakalan suka.

Semangat Ganto, Smangat Gebyar, PKJTL, Studmed… We will not go down!

Ditulis dalam Uncategorized. Tag: . 2 Komentar »

Flu Babi “Melebarkan Sayap”,

3:47 PM 4/30/2009
swineflupigTidak jauh dari hangatnya kasus flu burung, sekarang, kembali dunia heboh oleh kasus flu baru. Virus  flu baru yang berbahaya itu adalah virus flu babi, dengan nama kimia H1N1. Flu babi, menurut kabar terakhir dari BBC News, telah menewaskan 159 orang Meksiko. Sedangkan 7 orang diduga positif terinfeksi virus flu babi. Sebagian media menyebutkan,  Virus Flu babi telah menewaskan lebih dari 100 dari sekitar 2000 orang yang tertular penyakit ini.

Belum lagi kasus-kasus lain yang ditemukan di belahan dunia lain. Di Amerika  Serikat, 1 orang meninggal, 91 kasus positif flu babi; Kanada, 13 kasus positif flu babi; Selandia Baru, 3 kasus positif flu babi; Inggris/Spanyol/Israel, dua positif flu babi. Negara dnegan dugaan kasus flu burung: Brazil, Guatemala, Peru, Australia, Korea selatan, serta 10 negara Uni Eropa.

Suasana semakin mencekam, ketika WHO meningkatkan kewaspadaan terhadap flu babi meenjadi level lima (BBCindonesia.com). Artinya, penularan dari manusia ke manusia telah terjadi setidaknya di dua negara. Padahal, flu babi (Flu babi adalah penyakit pernapasan yang menjangkiti babi) biasa jarang menular ke manusia dan  lebih jarang lagi menjadi wabah. WHO membenarkan, setidaknya sejumlah kasus yang ditemukan adalah versi H1N1, influenza tipe A yang tidak pernah ada sebelumnya. H1N1 adalah virus yang menyebabkan flu musiman pada manusia secara rutin. Namun versi paling baru H1N1 ini berbeda: virus ini memuat materi genetik yang khas ditemukan dalam virus yang menulari manusia, unggas dan babi.

Virus flu memiliki kemampuan bertukar komponen genetik satu sama lain, dan besar kemungkinan versi baru H1N1 merupakan hasil perpaduan dari berbagai versi virus yang berbeda yang terjadi di satu binatang sumber. Perpaduan ini menyebabkan mereka menjadi virus yang sangat berbahaya. Seperti flu burung, dengan cepat virus flu babi menyebar ke seluruh dunia dengan cepat.

Dari informasi terakhir yang saya baca di berbagai situs internet, ada banyak cara penularan virus flu babi. Flu babi bisa menular dari manusia ke manusia lain.
Penularan terjadi lewat batuk dan bersin. Virus itu bisa bertahan dua jam pada benda-benda sehingga orang bisa tertular dari gagang pintu.Gejala infeksi virus flu babi pada manusia sama dengan gejala flu biasa.

Tanggapan Negara-negara Dunia

Di Indonesia, tujuh juta sampel populasi babi diteliti. Sampel ini diambil dari berbagai daerah di Indonesia. Direktur Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Tjeppy D. Soedjana mengatakan, daging babi yang sudah masuk akan diverifikasi. Walaupun di beberapa daerah seperti Bali sudah menujukkan kesiagaannya. Di Bali sepertinya lebih fokus pada pendatang asing.

Sedangkan di Mesir, walaupun belum ditemukan kasus flu babi, berdasarkan voting di Parlemen Selasa yang lalu memutuskan untuk memusnahkan sekitar 250.000 ternak babi yang ada di negara tersebut sebagai tindakan pencegahan terhadap penularan virus. “Ini adalah bukti dari rahmat Allah dalam syariah Islam untuk mengizinkan semua yang baik dan melarang semua hal yang buruk. Kita jadi mengerti dan mendapat hikmah dari dilarangnya mengkonsumsi Babi atau kita tidak dapat mengerti kenapa hal tersebut dilarang. Tapi akhirnya waktu yang membuktikan kebenaran ajaran Allah SWT tersebut, kata Syaikh Al-Sayid Askar dalam sebuah simposium kesehatan yang berkaitan dengan virus flu babi pada Rabu kemarin.

Meksiko seperti menkarantina diri sendiri. Gubernur Texas, Rick Perry mengatakan menutup perbatasan Amerika Serikat dengan Meksiko adalah sebuah pilihan, namun itu adalah langkah awal. Para pakar pengendali penyakit masih berupaya mencari jalan dalam mengatasi wabah flu babi di Meksiko dan Amerika Serikat, serta dugaan kasus ini di negara lain. Meksiko juga melakukan pelarangan terhadap seluruh restoran dan kafe beroperasi kecuali melayani makanan untuk dibawa pulang. Katanya, untuk mencegah penyebaran virus flu babi. Ada juga yang melakukan pelarangan terhadap impor babi

Dunia tetap khawatir terhadap flu jenis baru ini, walaupun sudah dinyatakan, tak ada risiko penularan virus dari konsumsi daging babi yang telah dimasak. Masyarakat disarankan mencuci tangan menggunakan sabun dari air secara rutin dan mencari bantuan medis bila mereka menunjukkan gejala penyakit mirip influenza.

Indonesia Tanpa ‘Traffic Light’, Mungkinkah?

traffic_lights

Pernah mendengar sebuah negara yang tidak memberlakukan traffic light? Negara itu adalah negara Turks and Caicos Island (TCI)  yang teletak di kawasan Karibia, Amerika Tengah. Sungguh unik, memang. Apalagi tingkat kecelakaan di negara TCI tidak tergolong tinggi.

Satu hal lagi yang mengagumkan, untuk mengatur lalu lintas, di setiap bundaran atau perempatan, diterapkan peraturan yang disebut ‘give way’, artinya: berikan jalan. Hal ini juga sering disebut dengan ’round about’. Menurut aturannya, setiap kendaraan yang tiba di persimpangan atau bundaran harus memberikan jalan kepada kendaraan yang datang dari sebelah kanannya untuk lewat terlebih dahulu.

Seorang Indonesia menulis dalam blognya, ”Tidak peduli bagaimana ramainya sebuah bundaran, kita hanya konsentrasi pada kendaraan yang datang dari arah kanan karena yang ada disebelah kiri sudah pasti akan diam dan memberikan jalan terlebih dahulu. Disiplin mereka sangat jauh lebih bagus dibandingkan lalu lintas kita di Indonesia sehingga arus kendaraanpun lancar.” (www.devari.org).

Bagaimana dengan lalu lintas negeri ini? Indonesia adalah negara dimana lalu lintas dipenuhi suara klakson dan umpatan. Setiap perempatan akan dilewati pemakai kendaraan walaupun traffic light menyala merah – kecuali jika ada polisi.

Perbandingan lalu lintas dari dua negara ini hanyalah satu dari sekian contoh kontemplatif. Butuh perenungan yang mendalam untuk menghasilkan sebuah solusi, yang paling tidak, untuk perubahan diri sendiri.

Sekedar untuk direnungi, logisnya ada dua hal yang menjadi perbedaan mendasar dari bangsa di atas yaitu kesabaran dan disiplin. Di negara kecil TCI, penduduknya adalah orang-orang yang disiplin.

Sehingga mereka mau menerima setiap peraturan dari pemerintah (walaupun hal tersebut menuntut tingkat kesabaran yang tinggi), asalkan itu tidak merugikan negara. Mereka menyatu dalam satu kedisiplinan. Mereka rela bersabar demi kelancaran arus lalu lintas. Bila lalu lintas lancar, semuanya akan terlaksana tepat waktu. Makanya, negara tersebut lebih cepat maju.

Sedangkan di negara ini, mau menang sendiri adalah kebiasaan yang lumrah. Egoisme bertransformasi menjadi hak asasi. Sabar, hanyalah kata-kata yang mendendang di setiap bulan Ramadhan. Sedangkan disiplin adalah cita-cita bangsa yang agaknya terlalu tinggi ditempatkan sehingga sulit untuk dijangkau.

Akhir tahun 2008, Menteri perhubungan, Jusman Syafii Djamal mengumumkan kecelakaan di Indonesia sudah mencapai angka 30.000 per tahun (www.media-indonesia.com). Angka yang sangat besar. Lihatlah mudik lebaran tahun lalu, tercatat 1.258 kasus kecelakaan dengan korban tewas 427 orang (http://hariansib.com). Yang menyedihkan, 80% terjadi karena human error. (www.seputar-indonesia.com).
Padahal, jalanan di negeri ini telah memiliki traffic light sebagai pengatur ulung.

Namun sayang, penggunanya lebih bangga dengan slogan yang dipinjam dari sebuah iklan rokok ”patuh kalo ada yang liat”. Peraturan tinggallah peraturan. Wajar saja, bila bangsa Indonesia sering menjadi korban kebodohan sendiri.

Lalu, pernahkah para kaum muda terfikir untuk mengakhiri kejumawaan bangsa ini? Caranya tentu saja dengan ”cerdas”. Cerdas dalam hal mengelola emosi dan cerdas dalam berdisiplin. Karena bagaimana mungkin kaum muda bisa memajukan bangsa bila masih mendewa pada emosi negatif yang berbahaya.

Terlebih jika hal tersebut mengabaikan peraturan yang ada. Friksi-friksi yang terjadi dapat diminimalisir dengan mematuhi aturan yang ada. Agar tidak terjadi perpecahan. Layaknya  rumus bijak Abdullah Gymnastiar, 3M: Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang paling kecil dan mulai saat ini juga. Akhirnya, bukan tak mungkin jika nanti lalu lintas di Indonesia tidak lagi menggunakan ’traffic light’.

Meiriza Paramita
Mahasiswa UNP, bergiat di Surat Kabar Kampus Ganto
Terbit di harian Singgalang Minggu

Pertahanan Buruh Menghadapi Krisis Ekonomi Global

Oleh Meiriza Paramita

Krisis ekonomi global telah menjadi isu internasional terpanas. Saat ini, krisis ekonomi bukanlah hantu sporadis yang hanya mencekam negara-negara miskin dan berkembang. Krisis/resesi global ini dipicu oleh negara adidaya Amerika Serikat (AS)  yang kewalahan menghadapi lingkaran hitam krisis ekonomi dengan sistem kapitalis.

Krisis ekonomi di AS diakibatkan penumpukan hutang nasional yang mencapai 8.98 triliun USD, pengurangan pajak korporasi, pembengkakan biaya perang Irak dan Afghanistan, dan yang paling krusial adalah Subprime Mortgage: kerugian surat berharga property sehingga membangkrutkan perusahaan besar di AS seperti Lehman Brothers, Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock, UBS, Mitsubishi UF pada akhir tahun 2008. Ketergantungan terhadap AS membawa dampak krisis ekonomi ke berbagai belahan dunia.

ekonomi-politikProfesor ekonomi dari Universitas New York, Nouriel Roubini memprediksi, krisis ekonomi ini bisa berlanjut hingga 2010 di negara-negara maju, serta penurunan jumlah lapangan kerja akan terus terjadi di tahun-tahun berikutnya (www.antara.co.id). Artinya, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan menjadi hal yang biasa untuk didengar dan dialami dalam tahun-tahun berikutnya, seperti ‘pemecatan masal’ yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia akhir-akhir ini.

Dalam harian Kompas edisi Jumat, 6 Maret 2009, laporan tentang di-PHK-nya sebanyak 37.905 buruh hingga tanggal 27 Februari 2009 menjadi headline. Selain itu, sebanyak 16.329 buruh dirumahkan, karena pabrik tidak lagi berproduksi optimal. Untuk alasan PHK buruh, jari telunjuk perusahaan tertuju pada satu titik: Krisis Ekonomi Global.

Akibatnya, masyarakat buruh yang menjadi korban paling mengenaskan. Juga, jika dilihat saat ini, buruh-buruh Indonesia memiliki kekurangan perangkat kompetensi untuk survival, atau bertahan dalam siklus. Perangkat itu berupa ESQ (Emotional and Spiritual Quotient), IQ (Intelegential Quotient), kreatifitas (baik itu berupa ide-ide ataupun hasil cipta), serta skill (keahlian), diantaranya karena kurikulum pendidikan yang kurang mendukung dan jenjang pendidikan buruh yang kebanyakan masih tingkat SMA ke bawah.

Akibat Tidak Adanya Perangkat Kompetensi Buruh
Pemecatan akan terus terjadi, sedangkan kehidupan terus menuntut pemenuhan kebutuhan keluarga. Betapa semakin sulit, apalagi saat sekarang ketika semua kebutuhan seolah-olah menjadi kebutuhan primer. Tanpa perangkat kompetensi, kemampuan bertahan hidup seorang buruh terguncang dengan keras.

Secara psikologi, Sigmund Freud, seorang ahli psikologi bidang psikoanalisis mengatakan, untuk bertahan dari masalah (defensive self) manusia bisa melakukan represi (menekan masalah ke bagian tidak sadarnya), fiksasi (melakukan perlawanan), dan identifikasi (meniru). Contoh dari represi adalah meminum-minuman keras, menggunakan narkoba, hingga keinginan untuk bunuh diri. Fiksasi bisa dilakukan dalam bentuk perbuatan-perbuatan anarkis, amoral dan asusila. Sedangkan, identifikasi yang salah bisa berujung pada kriminalitas jika seseorang memutuskan untuk meniru cara perampok untuk mendapatkan uang secara instan. Faktualnya, itulah bentuk pertahanan manusia Indonesia saat ini.

Hampir tiap hari kita mendengar kasus-kasus bunuh diri seorang buruh yang di-PHK sedangkan tuntutan ekonomi keluarga terus berdatangan, kekerasan dalam rumah tangga meningkat, pelecehan seksual, dan tindakan amoral-susila lainnya yang dipicu permasalahan ekonomi. Fluktuasi ini akan terus menciptakan kekacauan dan membuat manusia Indonesia pada umumnya semakin sensitif dan emosional. Akhirnya bangsa ini menjadi labil dan bisa saja kehilangan diri dan peradabannya.

Saat sekarang, secara signifikan, buruh yang di-PHK dan keluarga mereka berada dalam keadaan harus mempertahankan diri, seperti yang diteorikan Sigmund. Andaikan setiap buruh memiliki perangkat kompetensi, mereka akan siap mental ketika terjadi pemutusan hubungan kerja. Mereka akan tetap optimis karena masih memiliki ide-ide cemerlang untuk melanjutkan kehidupan. Lalu, bagaimana jika dalam jumlah besar buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja saat ini hanya sekian persen yang tetap memiliki kemampuan ini?

Partisipasi Semua Pihak Dalam Peningkatan Perangkat Kompetensi Buruh

Pada perkembangan terakhir, pemerintah telah merencanakan dan mempercepat pelaksanaan stimulus baru yang membutuhkan dana Rp.12,2 triliun. Proyek baru dari stimulus fiskal ini akan menyerap tenaga kerja sekitar 38.000 orang. Artinya, pemerintah akan menarik semua buruh yang di PHK, untuk mengerjakan berbagai proyek infrastruktur negara di setiap daerah seperti jalan tol, jembatan, proyek listrik, pertanian, dan lain sebagainya (Harian Kompas edisi 7 April 2009).

Namun, menurut penulis, itu belum cukup. Karena diperkirakan, di Jawa Tengah saja, 15 perusahaan akan mem-PHK lagi 5.000 buruh pada April-Juni. Itu baru di Jawa Tengah, belum lagi di provinsi-provinsi lain di Indonesia. Jadi, apabila jumlah buruh yang di PHK saat ini (37.905 buruh) ditambah dengan jumlah buruh yang akan di PHK di Jateng (5.000 buruh) saja (42.905 buruh) sudah melebihi kuota untuk menjadi buruh pada proyek-proyek baru pemerintah (38.000 buruh).

Karena kesenjangan di atas, pemerintah bukanlah satu-satunya yang bertanggungjawab. Pihak lain seperti Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), Serikat Buruh Muslim Seluruh Indonesia (Sarbumusi), Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), ataupun organisasi yang menggunakan nama “Buruh” sebagai daya pikat, misalnya Partai Buruh Nasional, juga harus turut andil.  Perjuangan nasib buruh dengan jalur demonstrasi tidak akan cukup, dan tidak akan menghasilkan solusi konkrit.

Seharusnya sebagai sebuah forum ataupun organisasi, mereka juga turut andil memperjuangkan masa depan buruh jika mereka di PHK dengan cara berbeda. Jumlah tenaga buruh yang di-PHK itu bisa menjadi aset berharga. Mereka bisa dilatih untuk kreatif dan ’mencipta’. Dengan kata lain, perangkat-perangkat kompetensi para buruh bisa diasah kembali. Nah, organisasi buruh ini, jika mereka memang terdiri dari orang-orang intelektual, merekalah yang harus mengorganisir dan memfasilitasi.

Sedangkan pemerintah adalah wadah. Pemerintah ‘wajib’ membantu orang dalam soal pendanaan. Jika pemerintah tidak bisa memberikan solusi cerdas, pemerintah harus mendukung segala solusi cerdas dari rakyat yang bermanfaat bagi negara. Namun bila negara malah mempersulit, barulah demo dan sedikit tekanan pada pemerintah halal untuk dilancarkan.

Diterbitkan dalam Surat Kabar Kampus Ganto ediri 150.

Naik Kereta Api, Nggak Jadi Lagi

ka-pariaman-padang1

11:51 PM 4/28/2009

Menyebar proposal kegiatan ke berbagai daerah memang sudah menjadi pilihan jika ingin mengangkatkan acara. Kali ini, untuk memenuhi kebutuhan dana acara Pelatihan yang akan diangkatkan oleh organisasi saya, jauh hari panitia sudah menyebar proposal.

Suatu ketika, tepatnya tanggal 27 April kemarin, senior saya ingin mengecek proposal yang telah dimasukkannya awal april lalu ke Pemko dan Bupati Pariaman. Berhubung tidak ada kru yang bisa menemaninya plus atas permintaan teman-teman yang lain, saya menganggukkan untuk menemaninya -si senior- ke Pariaman dengan kereta api. Lagipula saya ingin mencoba bagaimana rasanya naik kereta api, yang jujur saja, saya hanya sering mendengar bunyinya dari kejauhan. Nggak Gaul, memang.

Di telepon, kami janjian di depan stasiun kereta api “TABING”, jam satu siang. Karena biasanya kereta api datang sekitar jam satu atau setengah dua. Jadilah, sehabis sholat zuhur saya merayap melintasi kampus nan panas -siang itu suhu udara di Padang sangat panas. Saking panasnya, ada yang bilang, atap rumah bisa dijadikan tempat memasak telur ceplok. Tapi saya belum mencoba itu- hingga ke gerbang kampus. Mengapa harus ke gerbang kampus? Tentu saja, mikrolet tidak boleh beroperasi di dalam kampus.

Di atas mikrolet, saya kembali bertanya-tanya. Seperti apakah gerangan stasiun kereta api “TABING” itu? Saya memang sering lewat di depan stasiun dan melihat plang besi stasiun yang berwarna putih. Namun, saya belum pernah menginjakkan kaki di sana. Jujur sejujur-jujurnya, saya kecewa selama ini memilih untuk menjadi anak rumahan, eh bukan, anak kosan.

Dan saya terpana sekaligus hampir terpesona dengan apa yang saya lihat setelah membayar ongkos mikrolet. Stasiun kereta api “TABING” tidak sesuai dengan yang saya bayangkan. Stasiun ini sungguh “mini” dan tentu saja, belum selesai dibangun. Stasiun ini, seperti gerbang. Sisi kiri dan kanan gerbang adalah ruangan dengan sisi depan berdinding kaca, yang lagi-lagi belum selesai dibangun. Kaca sudah dipasang, tapi dinding-dindingnya belum dicat sama sekali. Jika malam hari, pasti akan seperti rumah hantu. Di sebelah ruangan tersebut, sepertinya juga akan dibangun sesuatu. Namun saya tidak tahu apa itu, karena yang berdiri cuma tiang-tiang penyangga atap.

Ah, saya menyamankan diri saja dengan cara “berciloteh panjang” dengan senior saya, seputar masalah Ganto -ada orang gila yang mengundang emosi para kru lewat Facebook Ganto-, hingga masalah Pelatihan yang akan kami diangkatkan .

Kami terus bercerita, namun kereta api tak kunjung tiba. Padahal menurut jadwal, kereta api dari Padang ke Pariaman akan berhenti di stasiun setiap jam 06:00 pagi dan 01:00 siang. Sedangkan dari Pariaman ke Padang tiap pukul 09:00 pagi dan 04:00 sore. Keterlambatan paling hanya 15 sampai 30 menit saja.

Perjalanan ke Pariaman dengan kereta api biasanya membutuhkan waktu satu setengah jam. Sedangkan kantor pemerintahan yang akan kami kunjungi ada dua, dan karena keduanya adalah kantor pemerintahan, kami juga kuatir tidak bertemu dengan orang yang kami tuju. Karena menurut tradisi, kebanyakan PNS mulai bubar dari meja kerja paling cepat sesudah zuhur, atau satu jam sehabis zuhur.

Akhirnya, kami masuk ke kantor pelayanannya. Senior saya yang cantik menanyakan jadwal kedatangan kereta api. Dengan santainya, petugas di sana mengatakan, kereta api datang jam 02:00 siang.

Wah, tidak mungkin! Tidak mungkin menunggu selama itu. Jika berangkat jam dua, berarti sampai di Pariaman jam setengah empat. Sedangkan kantor pemerintahan yang dituju ada dua. saat itu muncul beberapa opsi. Pergi ke Pariaman ditunda sampai besok pagi jam delapan, atau, tetap pergi sekarang dengan bus AKDP. Jika pergi besok, kelihatannya senior saya agak keberatan. Sedangkan jika naik bus, ongkosnya kemahalan, maklum, budget sangat terbatas.

Karena keadaan mendesak, akhirnya kami memilih naik bus AKDP. Untung busnya tidak terlalu berdebu seperti kebanyakan bus AKDP lainnya. Sebagai orang yang agak alergi dengan debu saya sering milih-milih bus. Karena, jika terlalu banyak debu/asap, biasanya mata saya berkunang-kunang, kepala berdenyut-denyut, pangkal hidung merasa tidak nyaman, dan konsentrasi kacau.

Di atas bus, kami kembali bercerita. Walau ketika itu, saya benar-benar iba hati karena tidak bisa naik kereta api. Tapi,cukuplah, senior yang menemani saya itu suka cuap-cuap. Dengan sedikit empati, dia mengeluarkan tetek bengeknya di Ganto. Bagaimana ia merasa tidak lagi dibutuhkan, diabaikan, dan banyak lagi.

Merambat di Angka Empat Puluh Satu

Empat puluh satu hari lagi,

Jika dihitung dari jumlah jam yang tersedia selama 41 hari itu, tersisa 984 jam. namun, tidak murni 984 jam, karena saat ini telah lewat 14,5 jam dari jam 24.00. Artinya, jumlah waktu yang tersisa adalah sekitar 969, jam.
Ya, kalau dihitung berdasarkan jam, memang akan banyak angka yang digunakan. begitu juga jika dihitung hari. Namun jika dihitung berdasarkan bulan, cuma tinggal satu bulan lebih sedikit.

Dan Mita seperti tersabet pedang waktu. Untuk hari ini saja entah berapa jam yang dilewatkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.
Dimulai dari bangun pagi yang semakin lelet saja. Bangun pagi jam setengah enam, sebenarnya sangat memalukan. Sudah berapa lama lewat dari azan subuh. Kemudian bangun tidur dan sholat. Sehabis itu membuang sampah bareng adek kos.

Membuang sampah hanya butuh waktu beberapa menit, tidak sampai setengah jam. Pukul enam lewat 15 menit,  usai sudah membuang sampah.

Namun, ketika kembali ke kamar, mata ini kembali terasa berat. Padahal, entah dua atau tiga hari yang lalu sudah bertekad untuk tidak tidur pagi.

Akhirnya, Mita coba baca buku. Sebenarnya, jika buku yang dibaca menarik, mungkin tidak akan susah mengelola kantu di mata. Tapi, jujur, buku yang ada benar-benar tidak menarik. Judulnya “Wartawan, hehehe…?”  yang ditulis oleh mantan ketua PWI pusat periode 1993-1998.  Cerita di dalam ememang lucu, tapi saat ini memang tidak begitu tertarik dengan bacaan ringan. Andaikan Mita tidak diPJ-kan menulis resensi buku ini…Cerita di dalam buku ini memang lucu, tepi tidak begitu lucu dan kadang terkesan garing. Mungkin karena penulisnya adalah orang yang sering menulis hal-hal serius.

Singkat cerita, kembali tidur pagi, jam tujuh tadi.

Salah satu citi orang pemalas adalah, sering tidur pagi. Siapa yang mau jadi pemalas? Tidak, cukup sudah kebodohan ini, cukup.

Waktu terbuang pagi ini. Seharusnya banyak yang harus dikerjakan.
Ada banyak tumpukan hutang selain PKJTL. Bukan hutang uang, tapi hutang amanah dan perjanjian :
1. layouting buletin Genesis, dan tanggung jawab untuk mengisinya dengan tulisan, jika kekurangan tulsian
2. Menulis satu tulisan sehari
3. Membaca buku
4. Menghafal Al-quran 5 ayat sehari
5. Sholah Duha, Sholat sunat Rawatib, dan sholat-sholat sunat lainnya.

Untuk bisa melakukan itu semua, ya, harus dipaksa. Dipaksa untuk belajar memanfaatkan waktu. Dan kayaknya, Mita harus punya agenda yang pasti. Untuk besok, harus ada hal baru untuk hari esok.

Karena, agenda besar itu tinggal kurang dari 41 hari lagi, dan karena saya tidak bisa menghitung mundur jatah hidup sendiri:)

Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka

Oleh Taufiq Ismail

Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membukalebar pintu dan jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus menderu-deru. Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya, dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan rekening reformasi ternyata mahal sekali.

Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak 1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjasama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya, ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya.

Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?

PERTAMA adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga normal, sebagian lebih besar, tak mau menampakkan diri.

KEDUA, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan (kue pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.

KETIGA, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat. Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial — ditayangkan pada jam prime time, kalau pemainnya terkenal. Remaja berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmen pasar penting tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan keluhan pada saya. “Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas, kurang pergaulan dan memalukan.” Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata 170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.

KEEMPAT, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100,000 (seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Francisco, Timbuktu, Rotterdam mau pun Klaten. Pornografi gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog Amerika Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di negaranya bagaikan “gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua telapak tangan.” di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs porno diblokir pemerintah untuk terutama melindungi anak-anak dan remaja. Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.

KELIMA, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat – sastra dan -sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia berkata: “Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu, ya?” Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH TERKIKIS, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s. (sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak bagian dari bangsa.

KEENAM, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan terbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah saja, tapi ada pula kadar ideologinya. Ideologinya adalah anjuran perlawanan pada otoritas orangtua dan guru, yang banyak aturan ini-itu, termasuk terhadap seks bebas. Dalam salah satu komik itu saya baca kecaman yang paling sengit adalah pada Menteri Pendidikan Jepang. Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri Pendidikan Nasional kita.

KETUJUH, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD biru. Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta — 20 juta keping setahun. Harga yang dulu Rp 30.000 sekeping, kini turun menjadi Rp 3.000, bahkan lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru dengan pelaku kulit putih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa murah. Anak SD kita bisa membelinya tanpa risi tanpa larangan peraturan pemerintah.

Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid laki-laki yang kumpul dua sore seminggu di rumah salah seorang dari mereka, lalu menayangkan VCD-DVD porno. Sesudah selesai mereka onani bersama-sama. Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD, kelas lima. Tak diceritakan apa ekses selanjutnya.

KEDELAPAN, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di Amerika dan Eropa batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa.

KESEMBILAN, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat keterlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.

KESEPULUH, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun nikotin 57.000 orang/tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati, atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan pajak 15 trilyun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit akibatnya 30 trilyun rupiah. Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam kategori kontributor arus syahwat merdeka ini? Karena sifat addiktifnya, kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses pembentukan ketiga addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat manusia. Dalam masyarakat permissif, interaksi antara seks dengan alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan. Interaksi ini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap hari berita semacam ini dapat dibaca di koran-koran.

KESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam masyarakat permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang diperlukan.

KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi berfungsi.

KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan meningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD, satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada di rumah dan pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab dia/mereka memperkosa, selalu dijawab “karena terangsang sesudah menonton VCD/DVD biru dan ingin mencobakannya.” Praktisi aborsi gelap menjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi. Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yang diakibatkannya. Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi pro-kontra RUU APP. Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di dalamnya. Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnakan adalah perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap kekerasan pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar pornografi, situs porno di internet naik lebih sepuluh kali lipat, lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks pra-nikah. Sementara anak-anak di Amerika Serikat dilindungi oleh 6 Undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti menolak melindungi anak-cucu kita sendiri.

Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi bahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, disokong kapitalisme jagat raya.

Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, “Kalau cerpen saya itu dianggap pornografis, wah, sedihlah saya.” Saya waktu itu belum sempat membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai pornografi. Begini. Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu, tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi. Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak dan jijik, maka karya saya itu pornografis. Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa.

Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal. Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan internet, sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan situs porno internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentuk eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa pasarnya luarbiasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderet antri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh perempuan dan fundamentalis-syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX Teens dan seterusnya.

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy Indonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan, yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuan mereka sendiri. Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelak suatu hari ketika Playboy Indonesia keluar perilaku aslinya dalam masalah ketelanjangan model yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu kucing. Sesudah dibuat dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10 saluran televisi dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?

Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirakan-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin, apalagi kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akan terangsang. Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka terangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.

Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.

Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis

Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis cerpen-puisi-novelis erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novel pascareformasi sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh melakukan apa yang disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengan segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?

Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu, beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan produsen-pengedar-pembajak-pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan) sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya Rp 30.000 sekeping, kini Rp 3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama dengan produsen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktif serba-boleh-apa-saja-genjot, yang dengan bersemangat melabrak apa yang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh-lantakkan moralitas anak bangsa.

Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang

Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri, yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa isteri di kampung. Di akhir cerita mereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja.

Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada hubungan pernikahan atau perzinaan, kabur adanya.

Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah. Pezina melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai. Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa. Penggunaan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suci adanya. Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga pernikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang tokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Mereka maling tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling, karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi mereka glorifikasi, dan penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan maling.

Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama dan alamat tempat berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan. Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia pengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan.

Beberapa di antaranya mungkin memang nymphomania atau gila syahwat, hingga ada kritikus sastra sampai hati menyebutnya “vagina yang haus sperma”. Mestinya ini sudah menjadi kasus psikiatri yang baik disigi, tentang kemungkinannya jadi epidemi, dan harus dikasihani. Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi Selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau Ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini sejumlah perempuan Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok permissif dan addiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang aromanya jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari.

Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing Program, Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya gelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya sampai ke Indonesia. Kaum feminis Amerika waktu itu sedang gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran, majalah, buku dan televisi.

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya. Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablas itu.

Di setasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-laki korban HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar matanya kosong, suaranya parau.

Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di tahun 1970-an, tulis seorang esais, bagaikan kematian di medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di New York, anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karena kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu. Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa bangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya sangat heran. Sungguh memuakkan. Kalimat bersayap mereka adalah, “This is my body. I’ll do whatever I like with my body.” “Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan tubuhku ini.” Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit mencicil dari Tuhan, cuma satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan Cina yang diobral di iklan koran-koran. Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur masyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan dalam urusan. Percuma bicara tentang moral dengan mereka. Dengan ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini merupakan riak-riak gelombang
dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan semangat dan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang selalu meniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu.

Penutup

Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah budaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan rohani mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan kelamin orang lain yang disabet-dicopet-dikorupsi dengan entengnya. Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka adalah maling dan garong genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan aborsi, bersuluh bulan dan matahari.

Pidato kebudayaan Taufiq Ismail di depan Akademi Jakarta pada 20 Desember 2006

http://andreasharsono.blogspot.com/2006/12/budaya-malu-dikikis-habis-gerakan.html