saphir

(…)

iChan yakin, Yanti tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Di rumah saja jarang sekali. Kecuali kalau dipaksa ayah. Jika Ayah sering pulang sekali tiga hari—kadang sekali seminggu bahkan pernah satu kali dalam sebulan hanya mau mengantar uang jajan—ke rumah, tentu Yanti lebih jarang pulang daripada itu. Tidak, dia tidak boleh disebut ibu. Lebih baik guru-guru perempuan di sekolah daripada dia.

Namun mengapa dia masih ingin ke sekolah? itu adalah pertanyaan besar yang belum ia temukan jawabannya. Sesampai di sekolah, nanti dia tidaklah belajar seratus persen. Sepuluh persen dia gunakan untuk mendengar celotehan guru. Sepuluh persen lagi di kantin. Dan persenan lainnya diisi dengan menjadi trouble maker di setiap tempat yang dilewatinya.

Ia merasa bahwa dirinya sangatlah kreatif. Sebab, dalam satu kali jalan saja dia bisa menghasilkan puluhan ide-ide usil yang sangat briliant. Bayangkan, betapa menyenangkannya bisa menggergaji kaki kursi guru, kemudian meletakkan kayu potongannya di tempat semula. Seolah kaki korsi tersebut masih utuh. Padahal telah dipotong. Ketika para guru yang jumawa duduk di atas kursi itu dan brakk! Mereka terjengkang. Menurut iChan, pemandangan tersebut sangat-sangat menarik.

Pernah juga, ia menampilkan kreatifitas usilnya ketika pembagian rapor. Namun keusilan ini membuka mata pihak sekolah untuk lebih menyempurnakan bentuk rapor siswa.

Begini, seperti sekolah zaman dahulu, di sekolahnya sekarang, raport diberi bungkus dari plastik tebal berwarna merah. Awalnya, nama siswa ditulis di sampul plastik itu, di pojok kanan. Sejam sebelum penerimaan rapor, semua siswa dan guru dibariskan di halaman sekolah.

iChan menyelinap ke ruangan guru. ia mencari meja guru kelasnya dan mulai bertindak kreatif: menggonta ganti sampul rapor dengan isi yang berbeda. Rapor si A dimasukkan ke sampul rapor si B. buku rapor si C dimasukkan ke sampul rapor si Z. begitu seterusnya.

Setelah berbuat usil, sambil bersiul kegirangan ia masuk kembali ke barisan. Ketika semua siswa sudah disuruh masuk ke lokal masing-masing, tidak ada kecurigaan sedikitpun. Nama pertama dipanggil adalah Anggi. Anak cewek yang selalu masuk rangking dua besar. Dia selalu bersaing dengan si kembar yang selalu juara: Abi dan Beni.

Ketika Anggi sudah stand by di samping ayahnya—di sekolah iChan, ketika penerimaan rapor, siswa yang bersangkutan harus berdiri di samping orang tua ketika pembagian rapor. iChan sering mengutuk ini. udik banget sih, katanya. Bagaimana mungkin guru mengkonsultasikan seorang anak di depan orang tuanya jika ada si anak. Kalau anaknya baik sih oke. Tapi kalau amburadul? Di tabok-tabok tu anak sama bapaknya langsung di tempat. Untung saja selama orang tuaku selalu sibuk sehingga Bu Arin, wali kelasnya lah yang me’nabok’nya. Ditabok bu Arin mah udah biasa—ia tersenyum-senyum penuh kemenangan. Maklum, ia telah promosi ke setiap orang kalau semester ini ia belajar lebih banyak dua jam dari biasanya. Biasanya dia pakai acara tidur siang sepulang sekolah, sekarang tidak lagi. Dia juga pamer kalau sering tidur jam sebelas malam demi menyelesaikan persoalan matematika yang paling rumit menurut anak-anak lainnya.

Si bapak nerima rapor Anggi dengan tangan gemetaran. Prosesi penerimaan itu, jika di slow motion kan akan terlihat menegangkan. Kumis bapak Anggi yang tebal seperti sapu ijuk terangkat ke atas, yang semula posisinya vertikal jadi horisontal, pertanda dia sedang tesenyum lebar.

Sesampai rapor di tangan, dia langsung membuka beberapa halaman tanpa membuka halaman depan. Sebab biasanya di halaman depan ada biodata siswa. Tapi si bapak langsung melompat ke bagian pertengahan rapor. Seolah dia hapal betul bahwa pada ketebalan sekianlah nilai rapor semester ini.

Matanya melotot memandang semua jejeran angka. Dia mengerjap-ngerjapkan mata sesaat. Kemudian beralih ke wajah bundar Bu Arin. Matanya memancarkan pesona kebingungan. Namun wajah bu arin adalah wajah penuh rasa bangga. Senyumnya lebar, dua senti kanan dua senti kiri. Si bapak kembali mematut rapor dan mendekatkannya ke mukanya. Rapor itu diangkat menutupi muka si bapak. Sesaat kemudian rapor dirurunkan, ia kembali memandang wajah bu arin seperti tak percaya. Bu arin masih dengan wajah innocentnya. Rapor diangkat lagi mendekat ke muka. Beberapa kali kejadian ini berulang sampai anggi pun merasa malu melihat kelakuan ayahnya. Ia menyodok lengan ayahnya. “Ayah ngapain sih?” wajah Anggi penuh tanda tanya dan sedikit raut sebal.

Tiba-tiba wajah ayahnya berkaca-kaca. Dia mengelus-elus kepala anaknya. “Kamu sudah bekerja keras nak…” lalu dia menyodorkan rapor itu dan memperlihatkan deretan angka merah yang berjejer seolah berparade di lembar rapornya. Anggi histeris dan pingsan seketika. Heart attack. Bu arin pun panik, begitu juga bapak Anggi. Anak-anak kelas lainnya mengerubuti Anggi berebutan mengangkatnya. Bu Arin yang sepertinya dari tadi mencium sesuatu yang aneh dari rapor yang dipegang dua ‘klien’ di depannya segera menyambar rapor yang tergeletak tak berdaya di atas lantai.

Alisnya mengerinyit.

“Kok gini?” gumamnya sambil membolak balik rapor dengan kasar. Di belakang bu arin, sekitar lima orang siswa perempuan terlihat awut-awutan, kewalahan mengangkat Anggi yang badannya seperti tidak bisa dibilang sebesar anak kelas dua SMP, tapi lebih seperti badan ibu-ibu.

Kemudian, bendungan itu jebol. Sebuah tawa meledak, diikuti bunyi cekikikan tak terkontrol dari pojok kelas. Kamuflase iChan dibuka oleh dia sendiri. ia menyesali itu hingga sekarang. Kejadian itu sangat lucu baginya. Keinginannya tertawa semakin membuncah ketika ayah Anggi hanya terbengong-bengong menatap murid-murid perempuan menggotong anaknya. Sepertinya ia tidak terlalu bersemangat untuk menggendong Anggi. Atau mungkin anggi terlalu besar untuk digotong oleh tangannya yang kurus tak berdaging. Ya, ayah Anggi sangat kurus, posturnya mungil. Sedangkan anggi sangat gemuk dan besar. Ibu Anggi memang sangat over size! Sampai sekarang iChan bertanya-tanya, ibunya langganan tukang jahit mana ya?

Memang, tidak pernah akan habis ia melakukan itu semua. Mungkin, karena “sangat menyenangkan dan menghibur” itulah dia merasa berat meninggalkan sekolah. Lagipula siapa bilang dihukum itu menyedihkan? Setelah insiden rapor merah itu, iChan disuruh berjemur di bawah terik matahari, menghadap bendera dan pasang hormat ke sana. Entah berapa jam. guru di sekolah juga tidak tega menghukum lama-lama.

Dihukum seperti itu, iChan hanya senyum-senyum. Kalau Derma, anak perempuan kepala sekolah yang cantik lewat, dia masih sempat lempar siulan panjang. Kemudian tepekur memandang langit. Indah sekali. Aku beruntung sekali, diperbolehkan memandang langit secerah dan seindah ini, itu kata-kata positifnya setiap kali dihukum jemur.

***

iChan menggeser kasar selimutnya hingga jatuh ke lantai. Ia memaksa diri keluar kamar—tepatnya menyeret paksa. Sekilas ia melihat jam di dinding kamarnya: “baru setengah tujuh,” gumamnya. Bu Arin menyuruh semua murid berkumpul pukul tujuh kurang lima menit.

Ogah-ogahan dia menuju kamar mandi yang berada di ujung dapur. Matahari telah muncul sejak jam enam tadi. Tanpa lampu, kamar mandi sudah sangat terang. Pojok dinding kamar mandi yang bersarang laba-laba, lantai keramik—sebenarnya tak terlihat seperti porselen lagi karena dipenuhi lumut yang berkembang biak—dan sampah-sampah membusuk yang menumpuk di penutup saluran pembuangan, dasar bak yang sudah berlumpur, dan toilet yang… maaf, seperti  toilet wc umum di pasar tradisional, semua itu bisa terlihat jelas!

‘Manusia antisepticgabakal mau masuk ke sini, gumam iChan dalam hati. Untungnya aku nggak manusia antiseptic. Tepatnya, aku ‘manusia septic tank’. Lalu iChan bersiul kegirangan dan mandi dengan air yang dipenuhi jentik nyamuk.

Sehabis mandi ia melenggang melewati dapur dengan handuk yang menutup bagian penting saja. Di dapur, pemandangan tak kalah tidak menyenangkannya. Seperti dapur yang sudah seabad tidak digunakan pemiliknya yang kabur karena gempa bumi. Porak poranda, kuali dan kompor berjamur—dulu sekali, setelah ibunya meninggal ia mencoba memasak mie karena kelaparan, namun “tidak pernah sempat” mencuci semua peralatan yang pernah digunakannya sampai sekarang—dan laba-laba dari berbagai jenis dan ukuran dengan senang hati menjadikan tempat itu sebagai lahan perumahan elit.

Perutnya tiba-tiba berbunyi, berkeriuk-keriuk. Ia baru ingat, kalau di rumahnya ada kulkas. Tapi iChan yakin, tidak ada isinya dan baunya pun sudah seperti kentut. Ya, rasanya sudah berminggu-minggu gak dipakai, setahu iChan.

Ibunya dulu meletakkan kulkas di dekat dapur. Tepatnya di antara kamar iChan dengan dapur. iChan masih ingat sewaktu mamanya bersikeras meminta Ayah menaruh kukas di sana. sebab Ibu sangat suka masak. Jadi kulkas pun diletakkan di dekat dapur. Ketika itu iChan bertanya: mengapa tidak di dapur saja, biasanya orang menaruh di dapur. Ibu saat itu tersenyum dan bilang, kalau kulkas ditaruh di dapur, yang tidak punya urausan masak pasti akan masuk dapur. Nah, ibu kan kalau masak paing ga bisa diganggu. Jika sedang memasak, beliau terbang ke sana ke mari.

Sesudah ibu meninggal, tepat seminggu setelah iChan ulang tahun ke tujuh, kulkas menjadi benda yang tak lagi terperhatikan. Sebab di rumah tak ada lagi yang cinta memasak. Namun kadang ayah memfungsikan kulkas itu setiap ia mau.

Semalam ia yakin sekali telah mendengar suara kulkas dibuka dan ditutup, karena kulkas terletak di depan kamarnya. Apa mungkin ayah pulang? mungkin juga Yanti.

Dibukanya kulkas dan ternyata di dalamnya sangat bersih. Tidak ada bau busuk yang berasal dari sayur busuk dan bahan makanan lainnya. Namun suasana kulkas telah berganti. Biasanya, jika ibu ada, kulkas itu penuh berisi sayuran, lauk di freezer dan cake. Sekarang di dalamnya dipenuhi kaleng minuman. Ia tahu pasti, itu minuman keras. Sedangkan di rak belakang pintu penuh dengan botol-botol minuman keras juga. Ada juga botol besar fanta dan coca cola.

Seketika, iChan merasakan ngilu di ulu dadanya. Sesuatu sedang meremas jantungnya. Semakin lama semakin kuat. Sampai-sampai ia sesak napas. Ia mencoba bernapas, tapi nyeri di dada membuat oksigen tertahan di hidungnya saja. Ia pun terbatuk-batuk dan matanya terasa panas. Andaikan ibu ada di sini, tentu semua berbeda.

Pandangannya jatuh pada sesuatu berwarna orange muda di rak nomor dua dari bawah. Tidak terlihat seperti botol atau kaleng bir. iChan berjongkok untuk melihat jelas. Ternyata benda itu pepaya bangkok yang hanya tinggal separo. Bagian ujungnya tidak ada lagi, tinggallah bagian pangkal.

Bibir iChan yang barusan manyun seperti sabit terbalik ke bawah, kini berputar ke atas. Ia suka sekali pepaya. Tanpa merasa perlu minta izin, ia keluarkan buah itu dari kulkas. Ya Ampun, diameter pepaya itu hampir sebesar diameter piring! Segera ia mencari pisau ke dapur. Namun pisau yang ditemukannya hanya yang sudah berkabut dan menjadi tempat mencaplok beberapa bagian sarang laba-laba. Karena menurut iChan, sarang laba-laba tidak mungkin mengandung virus berbahaya, segera dikupasnya pepaya dengan itu di atas tong sampah. Sambil mengupas, perutnya berkeriuk-keriuk. Seperti sedang menyanyikan lagu rindu pada pepaya.

Perlu hitungan detik bagi dia melahap separuh pepaya. Bekas air pepaya yang manis mengalir di sela jemari, dijilatinya. Dulu, ibu sering membuatkan aneka makanan dari pepaya untuknya. Mulai dari puding pepaya sampai donat isi saos pepaya.

Tiba-tiba ia teringat kalau ia harus segera sekolah. Ia pun memburu kamar dan mengobrak-abrik lemari untuk mencari pakaian. Syukurlah tidak harus pakaian seragam yang penting tidak kaus oblong, uhh! Setelah mengobrak abrik, ia teringat jeans dan kemeja lengan pendek yang digantung di belakang pintu.

(…) bersambung