(…)

Sambil memasang pakaian, ia melongok satu-satunya jam dinding yang masih hidup di rumah, adalah jam yang berada di kamarnya. Tujuh lewat lima menit. Segera ia teringat tampang Bu Arin dan sebuah kemoceng bertangkai rotan di tangan kiri. Pantatnya sudah sering kena sasaran keganasan kemoceng kesayangan Bu Arin itu. Seketika ia punya ide untuk menyembunyikan benda angker itu atau sekalian saja ia bakar.

Ditepuk-tepuknya kemeja berwarna biru dengan bermotif putih tipis vertikal dan melingkar seperti serat kayu. Debu tipis berterbangan.

Tidak lupa sebuah topi pet hitam berlambang dua sayap terkembang dijahit dengan warna biru terang. Topi itu ia sarung di kepala. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan tidak menggunakan tas. Setengah berlari, ia keluar rumah. Bukan berarti ia takut dengan Bu Arin, atau kemocengnya. Ia Cuma sedang malas dihukum pagi-pagi.

Dan petaka itu datang. Perutnya bergejolak, seperti memukul ke sana-sini. Ia belum menunaikan hajat!

iChan balik lagi ke rumah dan menyerbu toilet. Ia berangan bisa menyelesaikan hajat dalam sekejap. Tapi semua hanya angan. Sesuatu telah membuat perutnya bermasalah. Dia seperti terkena diare.

Pepaya!

Ia telah menemukan penyebabnya. Penyebab ia harus bolak balik ke kamar mandi. Baru keluar selangkah dari kamar mandi, perutnya menggedor-gedor lagi. Sesuatu mendesak keluar. iChan mulai panik.

Sial, Aku akan dikeluarkan dari sekolah kalau terus begini! Ia menggeram. Otaknya mereview kembali adegan ketika Bu Arin menyampaikan ultimatum Pak Darman.

Keluar dari toilet ke tujuh kalinya, iChan pun memutuskan untuk duduk di ruang tamu. Tak ada lagi harapan.

“Sudahlah, tak perlu datang. Lebih baik dikeluarkan. Bukankah aku selama ini ingin dikeluarkan? Bukankah aku muak dengan keadaan di sekolah?” bisik suara di kepalanya.

“Yee, kalau aku dikeluarkan, kamu bakal ngusilin siapa lagi?” suara lain menimpali.

“Kan bisa nyari sekolah baru.”

“Emang ada yang mau menerimaku? Tiga kali tinggal kelas. Nilai rapor selalu berdarah-darah.”

“Sekolah kan bukan tempat untuk ngusilin orang? sekolah tempat semua anak-anak belajar. Sekolah itu surga bagi ilmu.”

“Halah, sekolah itu surga bagi orang kaya. Si Abi dan si Beni saja, menjadi pusat perhatian karena mama dan papanya selalu ngedeketin Pak Darman biar dua anaknya bisa jadi ketua organisasi.”

“Sekolah juga surga bagi orang yang kreatif sepertiku.”

“Ibu merasa bahagia setiap diundang menjemput rapor iChan. Apalagi melihatmu bermain dengan kawan-kawanmu,” suara ibu yang telah terekam ketika ia kelas 3 SD diputar ulang mesin di ruang kepalanya. Umurnya tujuh tahun saat itu, paling kecil usianya di kelas, tapi paling pintar.

Gini-gini, dulu ia pernah dapat juara lho!

Akhirnya ia memutuskan tidak ikut kegiatan goro di sekolah. Keputusan itu dibuatnya bukan karena setuju dengan salah satu isi kepalanya yang berkicau tak henti. Keputusan itu muncul ketika ia merasa sesuatu memilin-milin perutnya dan keringat dingin mulai mengalir. Matanya pun mulai berkunang dan tenaganya nyaris hilang. Sangat tidak memungkinkan pergi sekolah.

Beberapa detik pascakeputusan, dia berlari ke toilet. Tolilet mengenaskan yang nasibnya semakin mengenaskan.

(…) bersambung